Kaliwungu Selatan - Dalam rangka mempererat silaturahmi sekaligus menguatkan syiar dakwah Ramadhan, MWC NU Kaliwungu Selatan menggelar kegiatan Tarawih Keliling MWC NU & BANOM bersama Forkopimcam (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan) pada Kamis, 26 Februari 2026 (8 Ramadhan 1447 H) pukul 19.00 WIB di Musholla Al-Muhajirin, Dukuh Krajan Barat, Desa Kedungsuren.
Kegiatan ini dihadiri segenap jajaran MWC NU, perwakilan Forkopimcam, seluruh perwakilan badan otonom (Banom) se-Kecamatan Kaliwungu Selatan, serta warga Desa Kedungsuren yang memenuhi musholla dengan penuh antusias.
Acara diawali dengan sholat tarawih, dilanjutkan dengan pembukaan, sambutan, mauidzah hasanah, doa bersama, dan penutup. Suasana berlangsung khidmat namun tetap hangat dan penuh kekeluargaan.
Sebagaimana tradisi setiap bulan Ramadhan, Tarawih Keliling dilaksanakan secara bergilir di delapan desa se-Kecamatan Kaliwungu Selatan. Tahun ini, Desa Kedungsuren mendapat giliran ketiga sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antar pengurus dan warga, tetapi juga momentum penguatan nilai-nilai keagamaan melalui pengajian dan tausiyah.
Pada sesi mauidzah hasanah, Bapak Ustadz Arizan mengangkat tema “Masjid dan Musholla sebagai Pusat Pembinaan Umat.” Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual semata.
Masjid sudah menjadi sarana ibadah, dan sekaligus bisa dijadikan tempat pendidikan seperti mengaji. Masjid harus diramaikan dengan kegiatan yang bermanfaat,

Beliau juga menegaskan bahwa belajar dan menuntut ilmu di masjid merupakan bagian dari sunnah yang telah dicontohkan sejak zaman Rasulullah SAW.
Lebih lanjut, Ustadz Arizan mengingatkan pentingnya doa dalam kehidupan seorang hamba.
Manusia yang tidak mau berdoa kepada Allah adalah bentuk kesombongan. Doa adalah kebutuhan kita sebagai makhluk yang lemah,
Dalam sejarah Islam, lanjut beliau, masjid pada masa Nabi Muhammad SAW bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, musyawarah, bahkan strategi sosial dan kemasyarakatan.
Pesan tersebut menjadi ajakan bagi seluruh jamaah untuk kembali memakmurkan masjid dan musholla sebagai pusat pembinaan umat, baik dalam aspek spiritual, pendidikan, maupun sosial.
Kegiatan Tarawih Keliling ini menjadi bukti nyata komitmen Nahdlatul Ulama dalam merawat tradisi dakwah yang membumi dan menyentuh langsung masyarakat. Melalui silaturahmi dan pengajian rutin, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antara pengurus NU, Banom, dan masyarakat di tingkat desa.
Semangat Ramadhan pun semakin terasa, bukan hanya sebagai bulan ibadah, tetapi juga momentum memperkokoh persatuan, memperkuat pembinaan umat, serta menumbuhkan kecintaan terhadap masjid sebagai pusat kehidupan umat Islam.